METODE PENELITIAN KHUSUS UNTUK EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK: MODEL ANALISIS DAMPAK KHUSUS UNTUK PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH TERDEPAN DAN TERLUAR DI KALIMANTAN TENGAH

Penulis

  • Damai Alam Usop Universitas Islam Syekh-Yusuf

Kata Kunci:

Metode Penelitian Khusus, Evaluasi Kebijakan Publik, Daerah 3T, Kalimantan Tengah, Model Analisis Dampak

Abstrak

Evaluasi kebijakan publik sangat krusial untuk memastikan efektivitas program pembangunan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Kalimantan Tengah, yang memiliki karakteristik kawasan hutan luas, sungai sebagai jalur transportasi utama, serta keragaman budaya Dayak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji model analisis dampak khusus untuk evaluasi program di daerah tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran dengan desain eksplanatori urut, menggabungkan survei terhadap 300 responden dan wawancara mendalam dengan 25 informan kunci di Kabupaten Gunung Mas, Murung Raya, dan Lamandau selama 6 bulan. Model yang dikembangkan mencakup 5 dimensi utama dengan 23 indikator khusus terkait aksesibilitas layanan, dampak sosial budaya, keberlanjutan program, kapasitas lokal, dan kepuasan masyarakat. Hasil menunjukkan bahwa model ini lebih efektif menangkap karakteristik unik daerah 3T dibandingkan model konvensional, serta mampu mengidentifikasi hambatan dan peluang yang tidak terdeteksi oleh evaluasi standar. Rekomendasi yang dihasilkan lebih tepat sasaran, seperti penyesuaian jadwal program dengan musim lokal dan penguatan peran Dewan Adat. Penelitian merekomendasikan penerapan model ini untuk evaluasi program pembangunan di daerah 3T Kalimantan Tengah.

Public policy evaluation is crucial to ensure the effectiveness of development programs in frontline, outermost, and underdeveloped (3T) regions of Central Kalimantan, characterized by vast forest areas, rivers as main transportation routes, and diverse Dayak cultures. This study aims to develop and test a special impact analysis model for evaluating programs in these regions. The research uses a mixed-methods approach with a sequential explanatory design, combining surveys of 300 respondents and in-depth interviews with 25 key informants in Gunung Mas, Murung Raya, and Lamandau Regencies over 6 months. The developed model includes 5 main dimensions with 23 specific indicators related to service accessibility, socio-cultural impact, program sustainability, local capacity, and community satisfaction. Results show the model is more effective in capturing unique characteristics of 3T regions compared to conventional models, and can identify barriers and opportunities not detected by standard evaluations. Recommendations are more targeted, such as adjusting program schedules to local seasons and strengthening the role of Customary Councils. The study recommends implementing this model for evaluating development programs in Central Kalimantan’s 3T regions.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30